#1dekadeTIUGM06
#iegmubetter06

View on Path

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Lima Tahun

Bara menengok layar handphone-nya. Ada pesan masuk di Whatsapp.
Aku udah landing. Kamu dmn?

Segera Bara membalas pesan yang terdiri dari dua kalimat itu dengan tiga kalimat. “Di Starbucks di keberangkatan. Ini aku jln ke kedatangan. Ktemu di dkt tmpt pesen taksi

Manusia kadang lucu. Ketika akan bertemu di Kedatangan, kenapa menunggu di Keberangkatan? Hal kecil memang, jika dibandingkan dengan luasnya bandara baru, yang area kosongnya lebih besar daripada area yang terpakai dan berfungsi. Bukan masalah besar pula karena jarak dari Keberangkatan ke Kedatangan juga tidak sejauh jarak dari gerbang masuk bandara ke drop off area atau dari Kedatangan ke gerbang keluar yang akan menyulitkan bagi beberapa orang yang memilih menggunakan angkutan umum. Tapi ketika bertemu saja harus menunggu sekian lama waktu, kenapa ketika bertemu masih saja tidak dengan cara praktis?

Bara bisa saja membeli segelas kopi ukuran grande di Starbucks di terminal Keberangkatan kemudian menikmatinya di terminal Kedatangan. Seperti yang dilakukannya lima tahun yang lalu ketika pertama kali menjemput Dian, wanita yang mengirim dua kalimat pesan Whatsapp.

Lima tahun adalah waktu yang lama bagi kelompok oposisi yang sudah tidak sabar untuk bertarung di pesta demokrasi. Lima tahun adalah waktu yang sebentar bagi politikus korup untuk mengumpulkan kesenangan. Lima tahun adalah waktu yang tidak lama sekaligus tidak sebentar bagi mahasiswa S1 di Fakultas Teknik untuk menyelesaikan masa kuliahnya. Lima tahun adalah waktu yang sebentar untuk menyelesaikan program Pelita di negara ini berpuluh-puluh tahun lalu, mengingat ada saja target yang tidak tercapai namun atas nama kekuasaan semua orang tetap merasa senang.

Lima tahun adalah waktu yang lama bagi Bara dan Dian. Lima tahun yang berisi senyum, tawa, kejadian-kejadian menyenangkan, diskusi-diskusi hebat yang menghasilkan pemikiran segar, dan sekian candaan yang tak terhitung lagi kadar kelucuannya karena hanya mereka yang memahami gurauan aneh namun cerdas. Mereka harus menunggu sabar selama lima tahun untuk bertemu dengan amarah, air mata, kejadian-kejadian menyebalkan, diskusi-diskusi tidak berkualitas ketika bukan ide atau pendapat yang diperdebatkan namun malah tentang sifat lawan bicara atau kejadian masa lalu yang terus-menerus diungkit, dan sekian sumpah serapah yang tidak bisa diukur lagi kadar sarkasmenya.

Lima tahun ke belakang, entah sudah berapa banyak orang berkata, “Yang cowok namanya Bara, yang cewek namanya Dian. Cocok laahh. Gih buruan nikah sono trus bikin pabrik lilin atau obor atau korek“. Bara dan Dian hanya bisa tergelak, saat itu.

Lima tahun mereka lupa bahwa Bara berarti tidak dapat “tenang” pada satu hal saja. Lima tahun lamanya pula mereka lupa bahwa Dian hampir tidak ada beda dengan Dhian, yang berarti bersifat ketuhanan, hebat, tidak bisa (atau tidak mau?) dikalahkan.

Ok, kamu mau ngomongin apa?” tanya Dian di mobil dalam perjalanan menuju hotel.

 

(Lima Tahun – part 1)

 

 

 

 

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Kontemplasi di Tanggal Delapan Bulan Delapan

Jika diingat kembali, perjalanan hidup sejauh ini penuh dengan pemaksaan.

DSC_0199+

Sejak kecil dipaksa untuk berpikir dan berperilaku selayaknya seorang wanita dengan nilai-nilai islami dan budaya jawa. Pulang sekolah selalu dimonitor untuk langsung tidur siang setelah makan, supaya sorenya tidak mengantuk ketika mengaji di masjid kompleks. Kaki selalu ditendang jika goyang-goyang ketika makan di meja makan atau duduk di kursi tamu.

Telah dipaksa untuk rutin mengikuti les renang. Kalau sudah besar, pasti malas (dan malu) untuk belajar dari dasar. Masih teringat jelas alasan pemaksaan saat itu. “Negara kita kepulauan. Besar kemungkinan untuk banjir bandang atau tsunami. Makanya kamu harus bisa renang!”

Dipaksa (dan diantar-jemput) les keyboard dan gitar. Dengan syarat saya mau ikut les tapi harus punya alatnya di rumah. Dan, voila! Dua alat musik itu ada di rumah sampai sekarang. “Otak kanan dan kirimu harus seimbang. Musik juga bisa merangsang kreatifitas dan rasa sensitifmu!” Alasan pemaksaan saat itu.

Didaftarkan beladiri pencak silat di perguruan tapak suci. Secara rutin seminggu dua kali dipaksa untuk berangkat (diantar dan dijemput). Alasan didaftarkan saat itu, “Beladiri adalah kemampuan dasar manusia untuk bertahan hidup. Selain bisa membentuk postur tubuh dan cara berjalan, ada pula ajaran nilai-nilai agama, beladiri ‘cantik’, dan pola pikir di perguruan yang mengutamakan kesenian dan pembelaan diri (bukan menyerang) itu.”

Sejak dini dibiasakan pulang sekolah langsung pulang rumah. TV di rumah selalu mati tiap malam jam tujuh sampai sembilan. Tidak boleh bepergian dengan teman, kalau mau pergi ya harus diantar. Hidup penuh aturan dan pemaksaan, bukan?

Tapi sekarang saya jadi risih sendiri kalau ada yang goyang-goyang kaki saat di meja makan. Saya jadi heran kalau ada orang yang tidak bisa renang (no offense lho). Pemaksaan-pemaksaan di masa lalu entah bagaimana caranya justru menjadi variable dan boundary bagi saya. Dan semua itu mendatangkan banyak hal baik, tidak ada satu pun hal buruk.

Oh iya, beliau yang suka memaksa ini dulu juga pernah memaksa saya untuk keluar dari ekstrakurikuler pecinta alam ketika SMA dan beliau (sepertinya) ‘terpaksa’ membelikan tape recorder supaya terkesan mendukung ekstrakurikuler majalah sekolah. Well, he made it. Saya menikmati dunia redaksi, reportase, pers (meskipun mentok di tingkat kampus). Sampai akhirnya kebiasaan menulis tersalurkan di blog keroyokan JajanSembarangan (hai apa kabar kalian JajanSembarangan-ers?) dan dilanjut blog ini.

 

.iwp.
Let’s share – Let’s shine

 

P.s.

Someday, somewhere, somehow, semoga tulisan ini bisa dibaca adik-adik yang masih di usia pertumbuhan. Bahwa paham demokrasi alias kebebasan berekspresi dan mengemukakan pendapat, tidak bisa mutlak diterapkan di mana saja, kepada siapa saja.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

PULANG

Pulang.
Seharusnya dibungkus dengan kebahagiaan. Bertemu dengan mereka yang sempat (sementara) ditinggalkan.

Pulang.
Selalu dipicu dari rasa rindu. Setelah sekian waktu beradu. Akan ada suatu masa di mana ingin menjadi diri ini seperti dulu.

Pulang.
Adalah pergi dengan membawa berita. Berita untuk dibagikan kepada mereka yang selalu menunggu dan mengharapkan seseorang mengetuk pintu sambil berkata “Aku pulang”

Pulang.
Kembali. Kembali ke tempat semula. Tempat awal. Tempat semua dimulai dan diciptakan.

Innalillahi wa inna ilaihi raaji’uun

P.s.
Mohon doa untuk ayah saya yang telah berpulang ke Rahmatullah pada hari Rabu 11 Juni 2014 yang lalu

. Terimakasih 🙂

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Kepulauan Seribu – Pulau Pramuka dan Sekitarnya

Perjalanan dimulai dari Pelabuhan Muara Angke, Jakarta Utara. Kami berangkat dengan menggunakan kapal mesin yang mampu memuat 180 orang. Perjalanan di pagi yang cerah itu akan menuju ke dua tujuan. Kapal berhenti di pemberhentian pertama, yaitu Pulau Pari setelah menempuh dua jam perjalanan. Kebanyakan penumpang di kapal (sekitar 80%) turun di Pulau Pari. Kemudian kapal melanjutkan perjalanan selama satu jam untuk mencapai Pulau Pramuka. Yes, total tiga jam perjalanan kami diombang-ambing ombak Teluk Jakarta.

Sesampai di Pulau Pramuka, kami diantar oleh Mas Herman (local guide) menuju penginapan untuk kami (Laylad Homestay) yang ternyata berada persisi di bibir pantai. Woiyooo… We totally became alay (baca: anak layut) :p

Image

welcome

Begitu kami masuk penginapan, sudah siap hidangan makan siang di atas meja di ruang tamu. Penginapan kami berbentuk rumah yang di dalamnya ada dua kamar tidur berisi dipan kasur berukuran cukup besar. Plus satu kasur di lantai tepat di depan TV di ruang tengah. Kamar mandi ada dua. Intinya, penginapannya nyaman. *kasih jempol*

Setelah istirahat (makan siang, sholat, leyeh-leyeh), kami bersiap untuk ber-snorkeling ria di siang hari yang sangat panas. Pemberhentian pertama adalah Pulau Semak Daun. Yang kami lakukan di sini hanyalah briefing dan pemanasan sekitar 30 menit saja. Pulau ini ramai dikunjungi wisatawan yang asyik berenang dan main sepakbola pantai.

Setelah cukup “panas”, Mas Herman membawa kami menuju Pulau Air. Dalam perjalanan menuju Pulau Air, ada pemandangan hebat yang jarang bisa didapat di Kepulauan Seribu. Tidak jauh dari kapal, terdapat sekelompok ikan lumba-lumba (sekitar 5-6 ekor) yang sedang asyik berenang. Cantik sekali ya cara mereka berenang. Saking asyiknya menikmati sampai-sampai tidak sempat ambil foto.

Di Pulau Air, aktivitas snorkeling dimulai. Cukup lama juga kami di tempat ini. Sesekali kami mencoba menyelam di kedalaman. Lumayan…

Setelah Pulau Air, Mas Herman tidak membawa kami ke pulau-pulau tapi ke spot-spot perairan yang pemandangan bawahnya bagus. Total kami berhenti di empat spot.

Image

(atas) Rifki-Arlinda-Wiwik (tengah) Rani-saya-Nino (bawah) Alief-Febra-Pandu

Rombongan kami kembali ke penginapan di Pulau Pramuka sekitar waktu maghrib. Hari yang melelahkan itu kami akhiri dengan menikmati seafood barbeque di malam hari.

Hari kedua alias hari terakhir, agenda kami adalah bersepedaan mengelilingi pulau dan mengunjungi tempat program pelestarian penyu sisik di Pulau Pramuka. Kami mendapat kabar buruk bahwa beberapa hari sebelum kunjungan kami, lebih dari sepuluh bayi penyu mati. Apa penyebabnya? Menurut penjaga tempat pemeliharaan penyu tersebut, kemungkinan karena keracunan oleh tangan pengunjung. Sering pengunjung yang datang bermain-main dengan bayi-bayi penyu tersebut yang diletakkan di dalam ember. Tangan pengunjung yang tercelup ke dalam air di ember itulah yang diduga meracuni. Bisa saja mungkin karena tangan si pengunjung baru saja cuci tangan dengan sabun atau baru saja memakai lotion. Hal ini dikarenakan bayi penyu sangat sensitive terhadap zat-zat yang tidak netral (kimiawi).

Image

Bayi-bayi penyu sisik

Image

Bisa sewa sepeda untuk keliling pulau

Selesai keliling pulau dan beberes, kami meninggalkan Pulau Pramuka untuk menuju pemberhentian terakhir kami yaitu Pulau Onrust. Diperlukan perjalanan menggunakan kapal selama sekitar dua jam. Di Pulau Onrust, terdapat bangunan peninggalan jaman Belanda dan Jepang. Agak kurang jelas juga sebenarnya pulau itu digunakan untuk apa pada jaman itu. Di pulau itu terdapat di antaranya bangunan bekas rumah sakit, tempat karantina calon jamaah haji, penjara, dan kuburan. Sampai saat ini pun kami tidak tahu apa korelasi dari bangunan-bangunan tersebut.

Image

Pulau Onrust; penjara, kakus, barak karantina haji, makam, rumah sakit

Dari Pulau Onrust, hanya dibutuhkan waktu kurang dari satu jam untuk mencapai Muara Angke. And that’s a wrap. Berakhir sudah liburan singkat yang mendadak itu. Salam Jalanjalan Goyanggoyang. See you on the next vacation.

Image

Lakukan segalanya yang bisa dilakukan di masa muda. Jump high!

foto koleksi pribadi dari kamera saya & Pandu

.iwp.
Let’s share – Let’s shine

2 Comments

Filed under Uncategorized

Matahari Tenggelam dari Puncak Mercusuar

Saya cukup kaget karena beberapa orang asli Balikpapan justru tidak tahu tentang keberadaan tempat bagus ini. Yup, here we are. Instalasi Menara Suar Tukong Hill yang tingginya sekitar 30-an meter. Kunjungan beberapa bulan yang lalu baru sempat saya tulis sekarang. :p

Menara Suar Tukong Hill

Menara suar ini terletak di tempat paling tinggi di kota Balikpapan. Dari kompleks perumahan Pertamina, kami menuju ke Café Puncak di daerah Pelayaran. Dari café ini, kami terus naik ke atas sampai mentok. Di situlah ujung jalannya, yaitu menara Tukong Hill.Kami mengetahui tempat ini secara kebetulan lewat obrolan dengan seorang waiter sekaligus peracik kopi di sebuah café dekat Kodam Mulawarman Balikpapan. Café ini recommended banget lho. Lain kali deh saya bahas ya.. 🙂

warna langitnya asyik banget

Menara suar atau bisa juga disebut mercusuar adalah salah satu piranti penting dalam navigasi, khususnya untuk transportasi laut. Eh by the way, ada yang tahu arti navigasi sendiri itu apa? Seorang bapak petugas penjaga di Tukong Hill(saya lupa nama si bapak) memberikan pertanyaan sederhana ini. Saya dan teman saya hanya bilang: menunjukkan jalan.Beliau malah tertawa.

Menurut bapak penjaga itu, navigasi adalah seluruh kegiatan atau proses dimulai dari dispatching atau pemberangkatan sampai mencapai tujuan. Dalam kasus mercusuar ini contohnya adalah navigasi kapal laut. Jika ada kapal melihat cahaya dari mercusuar ini, maka hal itu menjadi pemberitahuan ke awak kapal bahwa mereka sudah dekat dengan pelabuhan di Balikpapan. Begitu juga untuk kapal yang keluar.

Ketika kami menanyakan apakah menara boleh dinaiki, bapak penjaga yang sebelumnya bekerja di Sangatta ini hanya menjawab, “Boleh, asal punya nyali. Kalau mbak nya takut dan gak yakin, ya saya larang.” Bahh, nantang nih si bapak. Akhirnya kami putuskan saja mencoba menaiki walaupun ada rasa takut. Menaikinya pun pelan sekali. Setiap tingkat saya berhenti untuk menghilangkan deg-degan. Maklum, tanpa peralatan keamanan sama sekali.

si Dien ngebut manjatnya


Tapi, saya jamin deh. Sampai di puncak, pemandangannya luar biasa indah. It’s a WOW! Posisi menara ini berada pada lekukan, dekat pelabuhan Semayang. Jadi, kita bisa melihat kota Balikpapan, dari kompleks Pertamina sampai daerah Kampung Baru. Terlihat jelas juga aktivitas di pelabuhan, kota Penajam di seberang, sampai platform rig dan kapal tanker yang berlalu-lalang. Kami bertahan lebih dari dua jam karena ingin menikmati sunset di puncak mercusuar. Oh iya, pemandangan kilang Pertamina dari atas pada malam hari juga sedap lho.

senja di atas menara suar

Nah! Sunset!

P.s.: menghindari masuk angin, ada baiknya pakai jaket karena angin di puncak mercusuar lumayan kencang. *eh ini gak becanda lho!Sueerr, sembribit bo’*

.iwp.
Let’s share – Let’s shine

2 Comments

Filed under Uncategorized

Ini Negara Apa?

Alkisah, seorang pemuda yang hobi traveling sampai di suatu negara yang dia kurang kenal. Sambil tetap berjalan, sesekali bertanya ke setiap orang yang dia temui.

Ini Negara apa?
Sayup-sayup terdengar suara seorang wanita. Ini Indonesia, sayang. Tempat di mana kamu bisa mendapatkan uang dengan cara apapun. Dari cara yang jujur, sampai yang paling busuk. Dari pekerjaan kantoran di gedung-gedung tinggi pencakar langit, sampai pekerjaan bergumul di antara tumpukan sampah. Dari pekerjaan di kota metropolitan, sampai di lapangan tambang di tengah hutan. Bahkan, hanya dengan tubuhku pun aku bisa mendapat uang tiap malam.

Ini Negara apa?
Terdengar suara lantang dari seorang pria. Ini Indonesia, bung! read more

Leave a comment

Filed under Uncategorized