Kontemplasi di Tanggal Delapan Bulan Delapan

Jika diingat kembali, perjalanan hidup sejauh ini penuh dengan pemaksaan.

DSC_0199+

Sejak kecil dipaksa untuk berpikir dan berperilaku selayaknya seorang wanita dengan nilai-nilai islami dan budaya jawa. Pulang sekolah selalu dimonitor untuk langsung tidur siang setelah makan, supaya sorenya tidak mengantuk ketika mengaji di masjid kompleks. Kaki selalu ditendang jika goyang-goyang ketika makan di meja makan atau duduk di kursi tamu.

Telah dipaksa untuk rutin mengikuti les renang. Kalau sudah besar, pasti malas (dan malu) untuk belajar dari dasar. Masih teringat jelas alasan pemaksaan saat itu. “Negara kita kepulauan. Besar kemungkinan untuk banjir bandang atau tsunami. Makanya kamu harus bisa renang!”

Dipaksa (dan diantar-jemput) les keyboard dan gitar. Dengan syarat saya mau ikut les tapi harus punya alatnya di rumah. Dan, voila! Dua alat musik itu ada di rumah sampai sekarang. “Otak kanan dan kirimu harus seimbang. Musik juga bisa merangsang kreatifitas dan rasa sensitifmu!” Alasan pemaksaan saat itu.

Didaftarkan beladiri pencak silat di perguruan tapak suci. Secara rutin seminggu dua kali dipaksa untuk berangkat (diantar dan dijemput). Alasan didaftarkan saat itu, “Beladiri adalah kemampuan dasar manusia untuk bertahan hidup. Selain bisa membentuk postur tubuh dan cara berjalan, ada pula ajaran nilai-nilai agama, beladiri ‘cantik’, dan pola pikir di perguruan yang mengutamakan kesenian dan pembelaan diri (bukan menyerang) itu.”

Sejak dini dibiasakan pulang sekolah langsung pulang rumah. TV di rumah selalu mati tiap malam jam tujuh sampai sembilan. Tidak boleh bepergian dengan teman, kalau mau pergi ya harus diantar. Hidup penuh aturan dan pemaksaan, bukan?

Tapi sekarang saya jadi risih sendiri kalau ada yang goyang-goyang kaki saat di meja makan. Saya jadi heran kalau ada orang yang tidak bisa renang (no offense lho). Pemaksaan-pemaksaan di masa lalu entah bagaimana caranya justru menjadi variable dan boundary bagi saya. Dan semua itu mendatangkan banyak hal baik, tidak ada satu pun hal buruk.

Oh iya, beliau yang suka memaksa ini dulu juga pernah memaksa saya untuk keluar dari ekstrakurikuler pecinta alam ketika SMA dan beliau (sepertinya) ‘terpaksa’ membelikan tape recorder supaya terkesan mendukung ekstrakurikuler majalah sekolah. Well, he made it. Saya menikmati dunia redaksi, reportase, pers (meskipun mentok di tingkat kampus). Sampai akhirnya kebiasaan menulis tersalurkan di blog keroyokan JajanSembarangan (hai apa kabar kalian JajanSembarangan-ers?) dan dilanjut blog ini.

 

.iwp.
Let’s share – Let’s shine

 

P.s.

Someday, somewhere, somehow, semoga tulisan ini bisa dibaca adik-adik yang masih di usia pertumbuhan. Bahwa paham demokrasi alias kebebasan berekspresi dan mengemukakan pendapat, tidak bisa mutlak diterapkan di mana saja, kepada siapa saja.

Advertisements

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s