Lima Tahun

Bara menengok layar handphone-nya. Ada pesan masuk di Whatsapp.
Aku udah landing. Kamu dmn?

Segera Bara membalas pesan yang terdiri dari dua kalimat itu dengan tiga kalimat. “Di Starbucks di keberangkatan. Ini aku jln ke kedatangan. Ktemu di dkt tmpt pesen taksi

Manusia kadang lucu. Ketika akan bertemu di Kedatangan, kenapa menunggu di Keberangkatan? Hal kecil memang, jika dibandingkan dengan luasnya bandara baru, yang area kosongnya lebih besar daripada area yang terpakai dan berfungsi. Bukan masalah besar pula karena jarak dari Keberangkatan ke Kedatangan juga tidak sejauh jarak dari gerbang masuk bandara ke drop off area atau dari Kedatangan ke gerbang keluar yang akan menyulitkan bagi beberapa orang yang memilih menggunakan angkutan umum. Tapi ketika bertemu saja harus menunggu sekian lama waktu, kenapa ketika bertemu masih saja tidak dengan cara praktis?

Bara bisa saja membeli segelas kopi ukuran grande di Starbucks di terminal Keberangkatan kemudian menikmatinya di terminal Kedatangan. Seperti yang dilakukannya lima tahun yang lalu ketika pertama kali menjemput Dian, wanita yang mengirim dua kalimat pesan Whatsapp.

Lima tahun adalah waktu yang lama bagi kelompok oposisi yang sudah tidak sabar untuk bertarung di pesta demokrasi. Lima tahun adalah waktu yang sebentar bagi politikus korup untuk mengumpulkan kesenangan. Lima tahun adalah waktu yang tidak lama sekaligus tidak sebentar bagi mahasiswa S1 di Fakultas Teknik untuk menyelesaikan masa kuliahnya. Lima tahun adalah waktu yang sebentar untuk menyelesaikan program Pelita di negara ini berpuluh-puluh tahun lalu, mengingat ada saja target yang tidak tercapai namun atas nama kekuasaan semua orang tetap merasa senang.

Lima tahun adalah waktu yang lama bagi Bara dan Dian. Lima tahun yang berisi senyum, tawa, kejadian-kejadian menyenangkan, diskusi-diskusi hebat yang menghasilkan pemikiran segar, dan sekian candaan yang tak terhitung lagi kadar kelucuannya karena hanya mereka yang memahami gurauan aneh namun cerdas. Mereka harus menunggu sabar selama lima tahun untuk bertemu dengan amarah, air mata, kejadian-kejadian menyebalkan, diskusi-diskusi tidak berkualitas ketika bukan ide atau pendapat yang diperdebatkan namun malah tentang sifat lawan bicara atau kejadian masa lalu yang terus-menerus diungkit, dan sekian sumpah serapah yang tidak bisa diukur lagi kadar sarkasmenya.

Lima tahun ke belakang, entah sudah berapa banyak orang berkata, “Yang cowok namanya Bara, yang cewek namanya Dian. Cocok laahh. Gih buruan nikah sono trus bikin pabrik lilin atau obor atau korek“. Bara dan Dian hanya bisa tergelak, saat itu.

Lima tahun mereka lupa bahwa Bara berarti tidak dapat “tenang” pada satu hal saja. Lima tahun lamanya pula mereka lupa bahwa Dian hampir tidak ada beda dengan Dhian, yang berarti bersifat ketuhanan, hebat, tidak bisa (atau tidak mau?) dikalahkan.

Ok, kamu mau ngomongin apa?” tanya Dian di mobil dalam perjalanan menuju hotel.

 

(Lima Tahun – part 1)

 

 

 

 

Advertisements

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s